www.kawanku.com
Posted on Thursday, 23 June 2011
2 Jam, 22 Menit, 2 Detik

2 jam, 22 menit, 2 detik menuju tes seleksi masuk UI

 "Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun. Tlah brpu-

lang ke Rahmatullah shbt kt tcinta, Ilouka.

Ilouka meninggal d RS Medika Jaya pkl

04.38. Mhn sempatkan wktu untuk mndo-

akannya. Tlng sebar SMS ini y..."

 

          Detik berganti detik. Menit berganti menit.

Aku menghitung setiap detik yang ada un-

tuk ini. Untuk semua mimpi dan cita-citaku.

Aku menghitung menit-menit yang menjadi

tenggat waktuku. Ujian akhir, tes seleksi

masuk perguruan tinggi, dan banyak lagi.

          Di saat yang bersamaan, Ilouka menghitung

waktunya untuk ini. Untuk hari saat aku

menyerah pada takdir. Harusnya jangan

menyerah dulu...Harusnya jangan pulang

dulu, Ilouka...

Dan semuanya menjadi gelap sekaligus

sesak secara bersamaan.

 

24 jam, 7 menit, 45 detik menuju tes seleksi masuk UI

          "Ilouka gimana kabarnya sekarang?" Kara membuyarkan lamunanku yang sudah terbang ke mana-mana. Aku tidak mau beranjak begitu saja dari lamunanku. Lamunan ini penting untuk dilamunkan. Di dalamnya penuh berisi hitungan waktu. Satu hari menuju SIMAK UI, 25 hari menuju UTUL UGM, dan 55 hari menuju UN. Bermacam-macam startegi ada di benakku yang sudah sesak oleh pelajaran. Nanti malam belajar matematika matriks, besok ikut try out di tempat bimbel, dan seterusnya, dan seterusnya, lalu seterusnya lagi sampai semua cita-citaku tergapai.

          "Ilouka gimana kabarnya sekarang? Kamu tahu enggak?" Kara mengulang pertanyaannya sekali lagi. Dengan gemas ia menepuk pipiku. Terpaksa aku bangun dari lamunanku.

          "Apa?" aku bertanya bodoh pada teman sebangkuku itu.

          "Kamu masih ingat Ilouka kan? Teman yang tadinya duduk di belakang kita." Kara membelalakkan matanya yang bulat penuh, Hhh..Kara sih sudah cantik. Mau matanya juling atau melotot, tetap saja cantik.

          "Ingatlah. Oh, iya, Ilouka gimana kabarnya ya sekarang?" aku membalikkan pertanyaan yang seharusnya diperuntukkan untukku. Kara lagi-lagi membelalakkan matanya dengan gaya dramatis.

          "Itu yang tadi aku tanyain ke kamu. Ilouka apa kabarnya.." Ia menatap papan tugas yang sudah terisi penuh oleh kata-kata seperti, '55 hari goes to UN' atau '1 hari menuju SIMAK UI'.

          "Yah... Mana aku tahu. Akhir-akhir ini kan kita sibuk buat persiapan ujian akhir. Lagipula Ilouka sendiri enggak mau kita jenguk." Aku menjawab pertanyaan Kara sambil bertopang dagu. Sayup-sayup terdengar suara bel berdentang nyaring. Tanda pelajaran hari ini siap dimulai.

          "Sebenarnya Ilouka sakit apa, sih? Kenapa sampai empat minggu belum masuk-masuk juga?" Kara ikut bertopang dagu seperti aku. Sekeliling kami sudah terisi oleh penghuni kelas.

          "Entah ya, habis dia enggak mau dijenguk sama kita. Moga-moga aja dia cepat sembuh biar bisa ikut SIMAK UI. Dari dulu kan cita-cita dia jadi lulusan FK UI." Aku tertawa geli mengingat obrolan "konyol-konyolanku" dengan Ilouka. "Wah...Cita-citaku tuh jadi dokter anak. Tapi aku maunya jadi dokter lulusan FK UI! Biar bisa banggain Ibu sam Ayah. Supaya semua teman-teman sama keluarga aku bisa berobat gratis ke aku. Kalau Caca mau masuk mana nanti?"

          "Hahahh. Aku mau jadi insinyur mesin! Teknik mesin UI. Emangnya Cuma cowok aja yang bisa main-main sama mesin? Nanti kalau anak aku sakit dokter Ilouka yang periksa anak aku. Dan aku bakalan captain robot yang bisa jadi asistennya dokter. Sampel pertama robot ciptaanku itu bakal aku kasih special buat kamu."

          "Aku setuju sama ide Insiyur msin Caca, ha..ha..ha.."

          Dan sekarang, malah Ilouka yang terbaring sakit sampai satu bulan lamanya. Padahal kan dia yang cita-citanya jadi dokter.

          "Kita jenguk Ilouka hari ini, yuk!" Kara tiba-tiba mencetuskan ide yang menurutnya amat sangat bombastis.

          "Hari ini? Enggak, ah... Besok aja habis SIMAK UI. Hari ini aku mau les sampai jam sembilan malam ." Dengan spontan aku menolak rencana kami tersebut. Bukannya jahat, tapi aku kan tidak mau cita-citaku masuk UI gagal karena menjenguk teman yang entah sakit apa.

          "Yaaah.. ya udah, deh. Besok aja habis SIMAK UI. Tapi janji, ya. "Kara menatapku dengan tatapan penuh harap. Aku menggangguk sekenanya.  Sebenarnya setelah SIMAK UI selesai aku mau langsung intensif UN. Waktu-waktu ini tidak bisa aku sia-siakan begitu saja. Jam demi jam sangat berarti bagiku, bagi semua teman seangkatanku. Waktu yang harus dipergunakan seefisien mungkin untuk belajar dan beristirahat.

          "Padahal kan dulu kamu yang paling dket sama Ilouka. Sekarang diajak jenguk Ilouka aja susahnya minta ampun." Kara melanjutkan ucapannya saat masih bertopang dagu.

          "nggak jenguk kan bukan berarti udah enggak deket lagi. Aku Cuma mau focus tes dulu. Iya, iya, besok aku janji bakal jenguk dia. Toh tinggal 24 jam lagi. Ilouka enggak bakal ke mana-mana ini kan..." Aku menjawab enteng komentar Kara yang sebenarnya menyentuh hatiku. Apa aku salah karma terlalu focus dengan cita-citaku ini?

          "Pokoknya pulang sekolah ini aku mau bikinin cokelat kesukaan Ilouka. Kamu mau ikut bikin enggak?" Kara lagi-lagi menawarkan ide yang menurutku sangat aneh dan berlebihan. Oi,oi, besok itu tes seleksi UI!

          "Enggak dh, Kar..Besok aku beli buah aja untuk Ilouka. "Aku mencoba menolak keinginan Kara sehalus mungkin. Ya,Ya.. aku memang egois kali ini. Tapi keegoisan aku ini akan menentukan kehidupanku selanjutnya.

          Ucapanku terhenti saat guru fisika datang dan siap memberikan materi pelajaran.

          Jam demi jam berlalu. Menit datang berganti. Satu hari menuju tes seleksi perguruan tinggi yang kuinginkan. Aku akan berlari sekencang mungkin agar bisa mencapai tujuanku. Semua mimpi dan harapan yang kugantungkan tinggi-tinggi.

 

2 jam, 19 menit, 33 detik menuju tes seleksi masuk UI

          Jam masih menunjukkan pukul lima kurang, aku bangun dengan mata yang rasanya habis ditonjok puluhan preman. Kalau melihat pantulan diri di kaca pasti aku akan prihatin dengan keadaanku sendiri. Lingkaran hitam di bawah mata, rambut awut-awutan serta muka berminyak. Hasil maksimal akibat begadang sampai jam dua pgi demi belajar IPA terpadu. Aku mengucek-ngucek mata yang sebenarnya tidak gatal. Hanya reflek pribadi yang mesti dilakukan saat bangun tidur.

          Buku-buku bertebaran di seluruh tempat tidur dan lantai kamarku.

          Ya ampu. Hari ini SIMAK UI! Sebenarnya aku mendapat tempat tes yang sangat dekat dengan rumah, tapi tetap saja aku mesti segera bersiap. Dengan sigap aku melompat dari tempat tidur dan mengikat rambut awut-awutanku.

          Telepon genggamku bergetar. Suaranya sangat nyaring karena beradu dengan meja belajar yang keras. Dengan kesal kubuka pesan singkat yang mampir subuh-subuh begini. Dari Kara. Ada apa ya, dia mengirimku SMS subuh-subuh begini?

 

2 jam, 22 menit, 2 detik menuju tes seleksi masuk UI

          "Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun. Tlah brpulang ke Rahmatullah shbt kt tcinta, Ilouka. Ilouka meninggal d RS Medika Jaya pkl 04.38. Mhn sempatkan wktu untuk mndoakannya. Tlng sebar SMS ini y..."

          Ternyata ada janji-janji yang tidak bisa ditepati sekalipun si pengobral janji tidak berniat ingkar janji. Dadaku sesak oleh rasa bersalah. Egois, sombong, tukang janji, pengkhianat, semuanya menyeru untuk menghakimiku. Ke mana saja aku selama ini? Ada di mana aku hari-hari terakhir ini? Ketika sadar, ternyata sahabatku telah meninggal dunia.

          Kita bersama-sama lari untuk tujuan yang sama. Untuk semua angan-angan yang menjadi harapan Ilouka juga. Kita bersama-sama berjuang untuk mencapai semua. Aku jatuh, menangis, kelelahan, dan tertawa untuk tujuan yang sama dngan Ilouka. Tapi Ilouka harus berhenti di sini, dan aku masih bisa berlari. Terlalu banyak yang berputar di pikiranku yang begitu terbatas. Ngilu mengingat semua kata-kata sombongku kemarin.

          "Iya..iya..Besok aku janji bakal jenguk dia. Toh tinggal 24 jam lagi...Ilouka enggak bakal ke mana-mana ini kan..."

          Aku sombong dengan takdir yang ternyata bisa merebut Ilouka  kapan pun, dalam keadaan apapun. Aku terlalu hanyut menghitung waktu untuk diriku sendiri. Di saat yang bersamaan, ada yang berjuang menghitung setiap jengkal kemungkinan untuk hidup. Ada perjuangan berat lain yang tidak pernah terpikirkan oleh akalku yang sempit ini. Ketika aku berjuang mengejar cita-cita, Ilouka mmperjuangkan hidupnya. Dan dengan sangat egois, aku tidak mmedulikan perjuangannya. Rasanya semua usahaku menjadi sia-sia. Setiap waktu yang habis untuk tujuanku menjadi kabur di titik ini. Keterlaluan jika aku terus berlari mengejar harapan-harapanku sedangkan Ilouka harus mengubur harapan-harapannya.

          Aku akan berhenti di sini. Aku akan berhenti sebentar dari segala tujuanku. Sekadar menyampaikan salamku yang terlambat untuk Ilouka. Hhhh... batal ikut tes seleksi? Mungkin aku masih punya seribu kesempatan lagi untuk mencoba. Sedangkan Ilouka? Dia bahkan belum sempat berusaha...

          "Harusnya jangan menyerah dulu..Harusnya jangan pulang dulu, Ilouka...Kamu belum sempat jadi dokter dan aku belum jadi insinyur mesin."

 

 3 jam, 5 menit, 55 detik menuju ke rumah

          Jalanan Jakarta selalu ramai sekalipun hari minggu. Aku baru tahu setelah Ilouka tidak ada. Dia mengidap tumor di perutnya. Ilouka yang masih dengan mimpinya menjadi dokter harus pulang secepat ini, dengan cara ini.

          Bajuku basah oleh air mata sekaligus keringat. Aku tidak tahu aku menangis untuk apa. Untuk Ilouka yang pergi tadi pagi atau untuk mimpiku yang menguap bersamaan dengan kepergiannya. Sekarang jam sepuluh lewat lima menit menurut jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Harusnya aku sedang pusing mengerjakan tes seleksi tapi kini aku malah berada di mobil. Membawaku dan semua pikiranku pulang ke rumah.

          Tidak apa. Benar-benar tidak apa.

          Aku masih punya waktu lain. Aku akan menemukan mimpiku di lain kesempatan.

***

 

Oleh: Nike Nadia

Alumni Coaching Cerpen kaWanku 2009

 

 

 




Copyright © Kawanku Magazine, All Rights Reserved 2011. Kebijakan Privasi | Ketentuan Layanan | Info Iklan | Gramedia Apps | Gramedia Widget